Presentasi konflik di Labsos

11 10 2008

Pemahaman terhadap struktur sosial membawa kita kepada dampak logisnya yaitu konflik.Konflik tak pernah dapat dimusnahkan . Di sepanjang sejarah selalu kita mendapati konflik yang berakibat tragedi.Tetapi selalu saja ada hal baik dari hal buruk yang terjadi.Konflik memiliki dua sisi yang berbeda.

Dua cara pandang konflik:

1. Konflik dianggap meningkatkan solidaritas in group, memberikan inspirasi bagi perubahan yang lebih baik. Sosiologi mencatat ada beberapa tokoh yang memiliki paradigama konflik – positif ini yaitu Auguste Comte ( tokoh klasik ), Talcott Parson, sosiolog muda.

2.Konflik dapat juga berakibat buruk atau disorganisasi, lebih jauh lagi mungkin disintegrasi. Tak jarang konflik memicu tindak kekerasan represif ( seperti agresi perang, Perang dunia I dan II, perang salib, Holocoust,pemboman pearl Habour dan hiroshima dan nagasaki dst ).Beberapa tokoh sosiologi yang memiliki paradigma ini adalah Ralf Dahendroft, Karl Marx, Max Weber, Lewis Coser, dst )

Ada beberapa peta konsep dalam memahami konflik sosial, mohon dilihat  konflik

Untuk memahami peta konsep dalam attachment konflik tadi , saya sertakan sebagian sinopsis “wridom Writers” yang ditonton di Labsos sebagai bahan belajar dan analisa tentang pengaruh struktur sosial terhadap konflik. Berikut sinopsis berbahasa Indonesia diharap siswa terbantu dalam memahami pengaruh struktur terhadap konflik, dan restrukturisasi sekolah terhadap pola perilaku siswa:

Sinopsis
  Freedom Writers
Sinopsis
  Freedom Writers
  Film yang dibintangi oleh Hillary Swank, Scott Glenn, Imelda Stauton, dan 
Patrick Dempsey ini adalah film yang didasarkan kepada buku The Freedom Writers 
Diary yang disusun oleh seorang guru bernama Erin Gruwell. Film ini adalah 
kisah nyata yang dialami oleh sejumlah remaja California yang hidup dalam 
ancaman kerusuhan rasial setelah terjadinya kerusuhan di Los Angeles 1992. 
  Hillary Swank yang berperan sebagai guru bahasa Inggris Erin Gruwel terlibat 
di dalam upaya penyelesaian masalah rasisme yang begitu kental di kelasnya. 
Kelas yang dipimpin oleh Gruwel memang dihuni oleh murid-murid dengan latar 
belakang ras dan budaya yang sangat beragam. Tak heran, sentimen rasial setiap 
hari muncul di ruang kelas. Dengan menggunakan pendekatan simpatik, Gruwel 
memasuki dan mencoba memahami latar belakang murid-muridnya yang begitu 
sensitif dalam hal ras. Dia mencoba membandingkan antara karikatur seorang 
murid kulit hitam dengan bibir tebal dan karikatur yang dibuat oleh Nazi 
mengenai Yahudi yang berhidung besar.
  Gruwell memperkenalkan dan mengajak murid-muridnya untuk membaca buku The 
Diary of Anne Frank. Kemudian mereka melakukan perjalanan mengunjungi Museum of 
Tolerance di Los Angeles untuk memberi gambaran tentang bagaimana peristiwa 
rasial yang paling mengerikan pernah terjadi: Holocaust.Holocaust adalah tragedi

 pemusnahan ras yahudi pada saat Hitler berkuasa. Ide Hitler ternyata diilhami oleh Orang yahudi 

sendiri agar semua orang Yahudi hijrah ke Yerusalem dan mewarisi harta King Salomo yang diyakini

diwariskan kepadanya.

.


		

Actions

Information

One response

15 10 2008
victorio2sos4

Film yang bagus jadi pembuka bab “konflik”…
Btw,sekarang guru2 mulai punya web ya??

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: