Pemahaman terhadap struktur sosial membawa kita kepada dampak logisnya yaitu konflik.Konflik tak pernah dapat dimusnahkan . Di sepanjang sejarah selalu kita mendapati konflik yang berakibat tragedi.Tetapi selalu saja ada hal baik dari hal buruk yang terjadi.Konflik memiliki dua sisi yang berbeda.
Dua cara pandang konflik:
1. Konflik dianggap meningkatkan solidaritas in group, memberikan inspirasi bagi perubahan yang lebih baik. Sosiologi mencatat ada beberapa tokoh yang memiliki paradigama konflik – positif ini yaitu Auguste Comte ( tokoh klasik ), Talcott Parson, sosiolog muda.
2.Konflik dapat juga berakibat buruk atau disorganisasi, lebih jauh lagi mungkin disintegrasi. Tak jarang konflik memicu tindak kekerasan represif ( seperti agresi perang, Perang dunia I dan II, perang salib, Holocoust,pemboman pearl Habour dan hiroshima dan nagasaki dst ).Beberapa tokoh sosiologi yang memiliki paradigma ini adalah Ralf Dahendroft, Karl Marx, Max Weber, Lewis Coser, dst )
Ada beberapa peta konsep dalam memahami konflik sosial, mohon dilihat konflik
Untuk memahami peta konsep dalam attachment konflik tadi , saya sertakan sebagian sinopsis “wridom Writers” yang ditonton di Labsos sebagai bahan belajar dan analisa tentang pengaruh struktur sosial terhadap konflik. Berikut sinopsis berbahasa Indonesia diharap siswa terbantu dalam memahami pengaruh struktur terhadap konflik, dan restrukturisasi sekolah terhadap pola perilaku siswa:
Sinopsis
Freedom Writers
Sinopsis
Freedom Writers
Film yang dibintangi oleh Hillary Swank, Scott Glenn, Imelda Stauton, dan
Patrick Dempsey ini adalah film yang didasarkan kepada buku The Freedom Writers
Diary yang disusun oleh seorang guru bernama Erin Gruwell. Film ini adalah
kisah nyata yang dialami oleh sejumlah remaja California yang hidup dalam
ancaman kerusuhan rasial setelah terjadinya kerusuhan di Los Angeles 1992.
Hillary Swank yang berperan sebagai guru bahasa Inggris Erin Gruwel terlibat
di dalam upaya penyelesaian masalah rasisme yang begitu kental di kelasnya.
Kelas yang dipimpin oleh Gruwel memang dihuni oleh murid-murid dengan latar
belakang ras dan budaya yang sangat beragam. Tak heran, sentimen rasial setiap
hari muncul di ruang kelas. Dengan menggunakan pendekatan simpatik, Gruwel
memasuki dan mencoba memahami latar belakang murid-muridnya yang begitu
sensitif dalam hal ras. Dia mencoba membandingkan antara karikatur seorang
murid kulit hitam dengan bibir tebal dan karikatur yang dibuat oleh Nazi
mengenai Yahudi yang berhidung besar.
Gruwell memperkenalkan dan mengajak murid-muridnya untuk membaca buku The
Diary of Anne Frank. Kemudian mereka melakukan perjalanan mengunjungi Museum of
Tolerance di Los Angeles untuk memberi gambaran tentang bagaimana peristiwa
rasial yang paling mengerikan pernah terjadi: Holocaust.Holocaust adalah tragedi
pemusnahan ras yahudi pada saat Hitler berkuasa. Ide Hitler ternyata diilhami oleh Orang yahudi
sendiri agar semua orang Yahudi hijrah ke Yerusalem dan mewarisi harta King Salomo yang diyakini
diwariskan kepadanya.
.
Recent Comments